Plants vs Zombie..!! LOL

HAI..!!! *bersihin debu yang ada di BLOG*

kayaknya udah lama banget nih engga update blog yang satu ini.. hahahaha.. *katanya setiaaaa*

eniwei, ada banyak banget kegiatan yang bikin naik darah akhir-akhir ini memang.. walopun kadang-kadang pengen rasanya menyudahi semuanya.. hahahaha.. *dasar orang aneh*

well, LUPAKANLAH SEMUANYA itu.. sekarang aku mau menulis blog ini dulu.. *fuuuhh (meniup debu yang masih bersisa)*

beberapa minggu ini, atau mungkin semenjak ada komputer baru, di Petra Campus Radio terdapat pemandangan yang engga biasa… hehehe.. karena komputer baru ini, yang rencananya bakalan dibuat untuk radio Streaming, masih belom ada sambungan inernetnya, jadi ama anak-anak PCRONAIR diisilah kompie itu dengan berbagai macam game yang siap dimainkan..

pastinya seneng donk dapet game baru dan menyenangkan.. hahaha.. aku mah juga.. *malu mengakui*

eniwei, beberapa minggu kemudian muncullah CHART (yang aku bikin sendiri) dari game-game itu.. yap, dan pemenangnya adalah GAME yang satu ini..

kasih snapshotnya deh.

hahay! pasti udah pada tahu kan game apaan tuh??

yap.. PLANTS vs ZOMBIE..

selama beberpa lama (bahkan sampe sekarang) GAME ini menempati posisi pertama di PCR sebagai game terlaris untuk dimainkan.. hahaha..

snapshot berikutnya

snapshot yang lain lagi ini..

emang sih, game ini rada membsankan dan lama banget maennya.. tapi bakalan selalu ada kesan asik plus serem.. hahahah..

dan kalo kita kalah biasanya bakalan muncul tulisan kayak gini..

nah kalo udah kayak gitu, kita kudu ngulangin lagi deh… *SWT*

well, kalo misalnya pengen ngerasain maen ini.. langsung ajah ke website resminya dari game ini.. kalo engga salah sih di popcaps.com gitu.. hehehe..

Iklan

Dia mengerti.. (Sebuah perenungan Paskah)

hei everybody..

i’m back.!!! wanna say

menyambut hari PASKAH yang penuh dengan telor ini, aku bakalan bagiin satu cerita yang baru ajah aku baca.. hehehehe..

well, cerita ini aku ambil (baca: re-post) dari Notes Facebooknya ce Monche.. thanks for showing me this story ce.. ❤ 😉

enjoy the story..!!!

Pada akhir zaman, manusia berkumpul dari seluruh penjuru dunia. Beberapa orang berkumpul dan berdiskusi dgn serunya. Bukan dengan kengerian disertai rasa malu, melainkan dengan suara seperti sedang berperang.

“Bgmn Allah dpt menghakimi kita? Apa yg Dia ketahui tentang penderitaan?” sentak seorang gadis bermabut cokelat. Dia menyingsingkan lengan bajunya untuk menunjukkan sebuah nomor tato dari sebuah kamp konsentrasi Nazi. “Kami mengalami teror, pukulan, aniaya, kematian.”

Di kelompok lain, seorang pria berkulit hitam menurunkan kerahnya. “Bgmn dgn ini?” dia menuntut, sambil menunjukkan bekas luka jerat. ” Dihukum mati bukan karena kesalahan, tetapi hanya karena berkulit hitam! Kami mati lemas di kapal budak, disentakkan dari orang2 terkasih, bekerja keras, dan hanya maut yg memberikan kelegaan.”

Di hamparan tanah datar itu terdapat ratusan kelompok seperti mereka. Setiap orang mengeluh atas kemalangannya. Mereka merasa Allah sangat mujur, tinggal di surga, yang serba manis, tidak ada tangisan, rasa takut, kelaparan, dan kebencian. Maka masing2 kelompok mengirimkan pemimpin yang dipilih karena dialah yg paling menderita. Ada orang Yahudi, orang kulit hitam orang India dari kasta yg tak tersentuh, anak haram, seorang dari Hiroshima, dan seorang dari kamp perbudakan Siberia.

Mereka lalu berunding dan menuntut suatu hal dari Allah. Mereka menuntut agar Allah hidup di bumi dan merasakan penderitaan mereka. Setiap orang menyatakan keinginan mereka :
1. Biarlah Dia lahir sebagai seorang Yahudi
2. Biarlah keabsahan kelahiranNya diragukan sehingga dia tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya ayahnya.
3. Biarlah Dia mengadili sebuah perkara dengan sangat adil, namun seklaigus sangat radikal , sehingga otoritas religius yang kolot dan otoritas tradisional lainnya membenci Dia, menghukumNya, dan berusaha menyingkirkanNya.
4. Biarlah Dia dikhianati oleh teman-teman terdekatNya. Biarlah Dia didakwa dengan tuduhan-tuduhan palsu, dan diadili di depan juri yang berprasangka dan dan dihukum oleh hakim yang pengecut.
5. Biarlah Dia merasakan betapa mengerikannya kesendirian itu, benar-benar disingkirkan oleh setiap makhluk hidup. Biarlah Dia dianiaya, dan biarlah Dia mati dengan cara yang paling memalukan bersama pencuri biasa.

Setelah keinginan yg terakhir disebutkan, mereka semua bergumam setuju.. Lalu mereka terdiam dan menyadari satu hal… Allah telah melalui semuanya itu…

Dia mengerti penderitaan kita bahkan lebih daripada kita sendiri mengerti..
Dia melalui setiap penderitaan itu dan tetap setia..
Ia tetap mengasihi meskipun semuanya terasa mengerikan..
Bahkan setelah Ia bangkit dan seharusnya bisa menghakimi kita, Ia tetap memilih mengasihi kita..

Happy Easter all..
Jesus love us..

SUmber cerita : Renungan Blessing bln April 2010

cerita ini bener-bener bikin aku mikir, kenapa kita harus mengeluh dan mengeluh sementara Yesus ajah yang udah disiksa sedemikian rupa engga pernah mengeluh dan engga pernah sedikitpun bergumam dalam hati..

hmph, seenggaknya itu yang kurasakan… 🙄

hehehe..

well, bukannya bermaksud sok Rohani sih.. cuma pengen ngerayain PASKAH sambil ngerenungin diri ajah.. hehehehe..

Lusi (part 1)

“aku rindu setengah mati kepadamu

sungguh kuingin kau tahu

aku rindu setengah mati” D’masiv – Rindu Setengah Mati

“Permisi”, kata seorang dari depanku. Sedetik kemudian aku melihat wajahnya yang bersinar dan indah. Aku terkagum. Dengan earphone yang terpasang di telinga, dan pakaian yang terkesan sangat casual dan santai, dan potongan rambut pendek membuat aku terdiam sesaat. 😯

“I..i..ya??,” aku berusaha menormalkan nada suaraku yang terlihat sedikit grogi, “ada yang bisa dibantu?” lanjutku dengan nada yang masih sedikit grogi pikirku. 😳

“Aku mau pak Lab Umum.” jawabnya manissambil menyodorkan kartu biru dan KTP.

“Oke..” kataku sambil mengambilkan kunci loker dan memasukkan namanya ke komputer di depanku.

Namanya Lusiana. Dia cantik, walaupun agak sedikit tomboy. Mahasiswa angkatan 2008, setahun di bawahku. Perawakannya cuek dan tidak terlihat neko-neko. Dan entah kenapa, pertama kali melihatnya aku seakan menemukan sesosok perempuan yang tidak pernah aku temui di Kampus ini. 🙄

Sambil terus tersenyum simpul tanpa sebab, aku meneruskan untuk memasukkan namanya di dalam komputer. Entah apa yang membuatku tersenyum saat itu, padahal baru saja aku mempunyai masalah yang membuat aku BT seharian. Apakah karenanya? aku juga tidak tahu.

Aku adalah Rony, seorang mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di salah satu kota besar di Indonesia. Seorang yang biasa-biasa saja dengan perawakan yang, menurutku sendiri, kurang menarik. Aku berasal dari keluarga yang engga terlalu berada, sehingga membuat aku harus bekerja sebagai Mahasiswa Paruh Waktu di Pusat Komputer di kampusku. Pekerjaan yang menyenangkan karena di tempatku jaga selalu ada dia, Lusi, yang tiap hari selalu akan meminjam ruang Lab Umum di tempatku bekerja. 🙂

Aku tidak tahu mulai kapan aku seakan mulai terhipnotis dengan dia. Ceritaku diatas adalah pertemuan pertamaku dengan dia. Well, memang terlihat konyol, tapi itulah yang aku alami. Sejak saat itu, saat aku bertemu dengan dia, seakan-akan hari yang akan aku lalui semuanya indah.

😐 :mrgreen: :mrgreen: 😐

EGOIS itu SEHAT..!!!

beberpa hari belakangan ini.. dundhee berasa males banget guys buat ngelakuin sesuatu… pengennya tidur dan engga mau mikirin apa yang terjadi di luar sana.. rasanya pengen engga mau tau dan jadi orang yang sangat egois untuk beberapa saat..

dan dundhee udah pernah ngelakuin itu… beberapa waktu yang lalu dundhee berusaha menjadi orang yang sangat egois dan hanya mikirin soal kepentingan dundhee ajah.. and, honestly, it’s very fun when we could change n became one of the most selfish guy in the world… seneng banget akhirnya bisa jadi seorang yang “jahat” dan merasakan ini-dunia-gue-dan-elo-adalah-orang-yang-engga-tahu-apa-apa

pengen banget merasakan hal itu terus menerus dan engga perlu pake topeng yang selalu menuruti apa yang orang lain di sekitar kita mau.. *ketawa setan*

EGOIS ITU SEHAT…!!!

Death?! well, nope..!!!

hhh… setelah sekian lama engga menyentuh dan menjamah dan menulis di blog ini *lebay* akhirnya saya berhasil mengupdatenya.. WP lama loadingnya…

well, setelah melihat apa yang ditulis ama Raditya Dika di blognya yang luar biasa itu, terutama posting yang After The Funeral dundhee jadi keinget beberapa hal yang benernya ganggu banget kalo dundhee laghee mellow.. dan saat2 mellow itu sekarang dateng di saat yang salah…

*sebelum lanjut ngebaca postingan dundhee, baca dulu postingannya radit yang aku link itu deh.. hehehehe.. ntar balik laghee kesini..*

*udah? okeh lanjut*

well, pernah engga sih kamu ngerasain hal yang sama seperti yang dialami ama Radith itu?? jujur aja, dundhee sering banget ngerasain hal yang sama kalo laghee ada di pemakaman ato laghee ada di tempat yang berbau duka.. weits..

hmph, engga tahu kenapa akhir-akhir ini dundhee juga laghee mellow guys. hahaha.. apa karena emang bawaannya dundhee yang plegma.. (plegma apaan yaa?? makanan baru?? enak engga?? *bingung* => bukan gubluk)

dan karena itulah kadang dundhee ngerasa kayak waktunya tinggal bentar lagi neh.. what should i do?? *pengen nangis*

regards,

dundhee

Song of the month: Kris Allen – Live Like We’re Dying

Kris Allen

Sometimes we fall down and can’t get back up
We’re hiding behind skin that’s too tough
How come we don’t say I love you enough
Till it’s to late, it’s not too late

Our hearts are hungry for a food that won’t come
We could make a feast from these crumbs
And we’re all staring down the barrel of a gun
So if your life flashed before you
What would you wish you would’ve done

Yeah… gotta start
Lookin at the hand of the time we’ve been given here
This is all we got and we gotta start pickin it
Every second counts on a clock that’s tickin’
Gotta live like we’re dying

We only got
86 400 seconds in a day to
Turn it all around or throw it all away
We gotta tell ‘em that we love ‘em
While we got the chance to say
Gotta live like we’re dying

And if your plane fell out of the skies
Who would you call with your last goodbyes
Should be so careful who we live out our lives
So when we long for absolution
There’ll no one on the line

Yeah… gotta start
Lookin at the hand of the time we’ve been given here
This is all we got and we gotta start pickin it
Every second counts on a clock that’s tickin’
Gotta live like we’re dying

We only got
86 400 seconds in a day to
Turn it all around or throw it all away
We gotta tell ‘em that we love ‘em
While we got the chance to say
Gotta live like we’re dying

Like we’re dying oh – like we’re dying [x2]

We only got
86 400 seconds in a day to
Turn it all around or throw it all away
We gotta tell ‘em that we love ‘em
While we got the chance to say
Gotta live – like we’re dying

We never know a good thing till it’s gone
You never see a crash until it’s head on
All those people right when we’re dead wrong
You never know a good thing till it’s gone

Yeah… gotta start
Lookin at the hand of the time we’ve been given here
This is all we got and we gotta start livin it
Every second counts on a clock that’s tickin’
Gotta live like we’re dying

We only got
86 400 seconds in a day to
Turn it all around or throw it all away
We gotta tell ‘em that we love ‘em
While we got the chance to say
Gotta live like we’re dying

Like we’re dying oh – like we’re dying [x2]

We only got
86 400 seconds in a day to
Turn it all around or throw it all away
We gotta tell ‘em that we love ‘em
While we got the chance to say
Gotta live like we’re dying
Live like we’re dying

maaf.. buat yang satu ini.. dundhee engga bisa kasih link buat di download.. hehehehehe… ntar deh, kalo udah dapet bakalan langsung di update postingannya… okeh???

Foto dan rumor yang ada di dalamnya… wew..

Artikel ini aku ambil dari sini

Kevin CarterBetapa sebuah foto yang adalah gambar lebih berbicara ketimbang tulisan, bahkan saking dramatisnya sang foto pun meraih Hadiah Pulitzer. Kisah nyata menyentuh hati ini ditulis apik oleh Arbain Rambey, yang dikutip dari Kompas, 29.09.2009, khusus bagi Anda semua.

Sampai saat ini, rumor tentang foto karya Kevin Carter (Afrika Selatan) yang ada di halaman ini masih simpang siur. Foto peraih Hadiah Pulitzer tahun 1994 yang menampilkan seorang anak kecil kurus kering dengan latar belakang seekor burung pemakan bangkai ini hampir selalu dikaitkan dengan peristiwa bunuh diri yang dilakukan pemotretnya.

Rumor yang beredar mengatakan, Carter bunuh diri karena menyesal tidak menolong anak itu, tetapi malah memotretnya, bahkan lalu meraih hadiah jurnalistik bergengsi.

Rumor yang tak jelas benar asal-usulnya ini bertutur lebih jauh, Carter menulis di buku hariannya sesuai memotret foto itu, “ Ya Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan makanan lagi walau rasanya setidak enak apa pun. “ Di situs BBC, jelas-jelas ada bantahan bahwa kalimat itu tidak pernah ditulis atau diucapkan Carter di mana pun.

Dari penelusuran ke berbagai sumber, didapat kesimpulan bahwa Carter tak mungkin bunuh diri karena foto itu. Carter tahu benar bahwa anak itu tidak dalam bahaya sama sekali.

img1

Tempat ramai

Foto itu dibuat bukan di tempat terpencil, melainkan di sebuah acara pembagian makanan. Bahkan, Carter berlutut sekitar 20 menit di depan anak itu. Ia memotret beberapa kali sampai tiba-tiba seekor burung pemakan bangkai hinggap di latar belakang. Carter juga sempat menunggu agar sang burung pemakan bangkai mengembangkan sayapnya untuk mendapatkan foto yang lebih dramatis. Selain itu, orang tua atau kerabat si anak juga berdiri tak jauh dari situ, sibuk meraih pembagian makanan. Seusai memotret, Carter juga sempat mengusir sang burung pemakan bangkai.

Berikut ini cerita yang disampaikan Joao Silva yang bersama Carter berada di tempat pemotretan, seperti dituturkan kepada penulis Jepang, Akio Fujiwara, dan dimuat dalam buku berjudul The Boy who Became a Postcard (terbitan Ehagakini Sareta Shonen).

Saat itu, tanggal 11 Maret 1993, Carter dan Silva mendarat di bagian utara Sudan untuk meliput kelaparan parah yang sedang terjadi disana. Mereka berdua turun dari pesawat PBB yang memang akan menurunkan bantuan pangan. Tim kesehatan PBB memberi tahu keduanya bahwa mereka akan tinggal landas lagi 30 menit kemudian.

Dalam 30 menit itu, tim PBB memang membagi-bagikan makanan. Carter dan Silva cukup terkesima melihat orang-orang kelaparan yang berebut makanan pembagian. Anak yang dipotret Carter pun dipotret Silva walau tidak dipublikasikan. Menurut Silva, Carter memotret dari jarak sekitar 10 meter dan di belakang Carter adalah suasana orang ramai berebut makanan.

Satu yang penting dari kejadian itu adalah seusai memotret, Carter duduk di bawah pohon dan tampak tertekan.

“ Dia berkata rindu dan ingin memeluk Megan, putrinya, “ kata Silva.

Carter memang punya seorang anak perempuan bernama Megan, kelahiran 1977, di luar nikah dengan Kathy Davidson, seorang guru sekolah.

Pada waktu bunuh diri pun, surat yang ditinggalkan Carter berisi tulisan sebagai berikut : “ I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money !!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners … I have gone to join Ken if I am that lucky …

Carter bunuh diri 27 Juli 1994 beberapa pekan setelah meraih Hadiah Pulitzer dengan cara menutup diri di dalam mobil pikup-nya, lalu mengalirkan gas knalpot ke dalam. Ia bunuh diri karena depresi pada kenyataan hidup yang kejam dan keras. Carter juga menangisi kematian sahabatnya, Ken Oosterbroek, sesama fotografer jurnalistik, yang meninggal saat meliput sebuah kerusuhan.

Pembela kebenaran

Sebenarnya Carter yang lahir 13 September 1960 di Johannesburg, Afrika Selatan, berjiwa pembela kebenaran sejak kecil.

Ibunya Roma Carter, bercerita bahwa Kevin kecil sering meradang kalau melihat seorang polisi kulit putih memperlakukan orang kulit hitam dengan kejam. “ Kevin berteriak kepada ayahnya agar menghentikan ulah polisi itu, “ kata Roma.

Demikianlah, profesi sebagai fotografer jurnalistik sering membawanya menjadi saksi peristiwa-peristiwa keji, seperti orang yang dibakar hidup-hidup ataupun orang yang dibantai beramai-ramai di tengah keramaian.

Carter tidak tahan hidup menjadi saksi kekejaman. Ia memilih mengakhiri hidupnya.

Pertanyaan penting tentang mengapa foto karyanya penuh dengan rumor, barangkali bisa merujuk pada pendapat Richard Winer, peneliti misteri Segitiga Bermuda.

“ Manusia pada dasarnya senang mitos. Walau sudah ada penjelasan ilmiahnya, sebuah mitos atas suatu peristiwa selalu ada, “ kata Winer.

Sumber  :

Kisah Sebuah Foto dan Rumornya, Arbain Rambey
Kompas, 29.09.2009